A. ASPHAL MIXING PLAT
Pengertian Asphalt Mixing Plant Adalah
- Salah satu komponen penting pada struktur jalan adalah Beton Aspal atau
Laston Aspal. Laston Aspal biasa diproduksi di sebuah mesin besar bernama
Asphalt Mixing Plant/ AMP. Pengertian Asphalt Mixing Plant adalah suatu tempat
yang terdiri dari beberapa alat- alat berat dan mesin yang berfungsi untuk
memproduksi Beton Aspal / Hotmix dalam skala besar. Kapasitas produksi dari AMP
sangat tergantung dari jenis dan spesifikasi alat. Adapun jenis- jenis aspal
yang bisa diproduksi oleh Asphalt Mixing Plant antara lain AC-BC, AC-WC,
Ac-Base dan lain- lain.
Asphalt Mixing Plant biasa digunakan pada
proyek jalan yang mempunyai kebutuhan hotmix sangat besar. Karena untuk
membangun Asphalt Mixing Plant diperlukan peralatan dan biaya yang besar. Perlu
perhitungan khusus untung dan rugi jika membangun asphalt mixing plant atau
AMP. Apabila proyek jalan dengan kebutuhan hotmix sedikit sebaiknya beli jadi
aja hotmix ke AMP lain.
Adapun pengertian secara mendetail Asphalt
Mixing Plant adalah Gabungan dari beberapa alat mekanik dan elektronik yang
digunakan untuk mencampur beberapa fraksi agregat dengan aspal drum atau aspal
curah sehingga menghasilkan campuran beton aspal yang bisa digunakan untuk
struktur jalan atau sesuai kebutuhan.
ASPHAL
MIXING PLAT
Pengertian Asphalt Mixing Plant Adalah -
Salah satu komponen penting pada struktur jalan adalah Beton Aspal atau Laston Aspal.
Laston Aspal biasa diproduksi di sebuah mesin besar bernama Asphalt Mixing
Plant/ AMP. Pengertian Asphalt Mixing Plant adalah suatu tempat yang terdiri
dari beberapa alat- alat berat dan mesin yang berfungsi untuk memproduksi Beton
Aspal / Hotmix dalam skala besar. Kapasitas produksi dari AMP sangat tergantung
dari jenis dan spesifikasi alat. Adapun jenis- jenis aspal yang bisa diproduksi
oleh Asphalt Mixing Plant antara lain AC-BC, AC-WC, Ac-Base dan lain-
lain.
Asphalt Mixing Plant biasa digunakan pada
proyek jalan yang mempunyai kebutuhan hotmix sangat besar. Karena untuk
membangun Asphalt Mixing Plant diperlukan peralatan dan biaya yang besar. Perlu
perhitungan khusus untung dan rugi jika membangun asphalt mixing plant atau
AMP. Apabila proyek jalan dengan kebutuhan hotmix sedikit sebaiknya beli jadi
aja hotmix ke AMP lain.
Adapun pengertian secara mendetail Asphalt
Mixing Plant adalah Gabungan dari beberapa alat mekanik dan elektronik yang
digunakan untuk mencampur beberapa fraksi agregat dengan aspal drum atau aspal
curah sehingga menghasilkan campuran beton aspal yang bisa digunakan untuk
struktur jalan atau sesuai kebutuhan.
Jenis
Asphalt Mixing Plant :
Terdapat 3 jenis Asphalt Mixing Plant
antara lain AMP Batch Plant (Jenis Takaran), AMP Drum Mix (Jenis Drum
Pencampur), dan AMP Continues Plant (Menerus). Namun AMP yang banyak digunakan
di Indonesia adalah AMP Jenis Takaran dan AMP Jenis Drum Pencampur.
1. Asphalt Mixing Plant/ AMP Jenis Takaran (
Batch Plant)
Merupakan jenis AMP Timbangan dimana
komposisi bahan dalam campuran beraspal sudah ditentukan berdasarkan berat
masing- masing bahan. Proses pencampuran aspal pada AMP jenis Takaran ini
dimulai dengan penimbangan aggregat, bahan pengisi (filler) jika diperlukan dan
aspal sesuai dengan komposisi yang ditentukan berdasar Job Mix Formula dan
dicampur pada pugmill dalam waktu tertentu. Pengaturan bukaan pintu bin dingin
dilakukan untuk menyesuaikan gradasi fraksi agregat dengan rencana komposisi
campuran agar aliran fraksi aggregat dari bin dingin ke bin panas bisa berjalan
lancar dan sesuai dengan rencana komposisi campuran.
Asphalt mixing plant jenis Takaran
mempunyai perbedaan di kelengkapan peralatan dibanding AMP Jenis Drum
Pencampur. AMP Jenis Takaran mempunyai saringan panas (hot screen), bin panas
(hot bin), timbangan (Weight hopper) dan pencampur (pugmill/mixer). Sedangkan
AMP jenis Drum pencampur tidak memiliki.
2. Asphalt Mixing Plant/ AMP Jenis Drum
Pencampur (Drum Mix)
Merupakan jenis AMP dimana komposisi bahan
dalam campuran ditentukan berdasarkan berat masing- masing bahan yang diubah ke
dalam satuan volume atau dalam aliran berat per satuan waktu. AMP jenis
pencampur drum, aggregat panas langsung dicampur dengan aspal panas di dalam drum
pemamas atau di dalam silo pencapur di luar drum pemanas. Penggabungan aggregat
dilakukan dengan cara mengatur bukaan pintu pada bin dingin dan pemberian aspal
ditentukan berdasarkan kecapatan pengaliran dari pompa aspal.
3. Asphalt Mixing Plant/ AMP Jenis Menerus
(Continuous)
Merupakan jenis AMP yang jarang digunakan
pada proyek- proyek jalan karena memiliki beberapa kekurangan antara lain
• Gradasi aggregat kurang terjamin
kesesuaiannya dengan rencana pada Job Mix Formula. hal ini dikarenakan
pengontrolan hanya bisa dilakukan dari bukaan pintu bin dingin saja. Tidak ada
pengontrol kedua seperti pada jenis AMP Takaran.
• Pengaturan jumlah pasokan aggregat
kurang teliti kalau hanya mengandalkan pengaturan bukaan pintu bin dingin saja
tanpa ada alat kontrol lain seperti pengontrol kecepatan ban berjalan.
• Jumlah pasokan aspal yang diberikan saat
pencampuran dengan agregat panas sangat tergantung dari viskositas aspal. Jika
terjadi penurunan temperatur aspal maka akan menyebabkan jumlah aspal yang
diberikan tidak sesuai dengan kadar aspal optimum.
• Temperatur campuran aspal kadang terjadi
penyimpangan.
Untuk
keperluan produksi hotmix pada proyek jalan, biasanya digunakan AMP jenis
Takaran. Oleh karena itu kita akan fokus membahas lebih detail mengenai AMP
Jenis Takaran (Batch Plant).
Asphalt Mixing Plant rata- rata mempunyai
kapasitas produksi maksimum 50 t on/
jam. Khusus untuk jenis AMP Takaran, Semakin besar kapasitas batch maka
produktivitas semakin meningkat. Berikut ini bagian- bagian dari Asphalt Mixing
Plant yang menjadi satu kesatuan unit produksi hotmix.
1. Tempat Penyimpanan Aspal, berfungsi
sebagai penyimpanan aspal. Sering disebut dengan ketel. Aspal drum akan
dimasukkan ke dalam ketel kemudian dipanaskan sehingga aspal dalam drum akan
mencair.
2. Cold Bin (Bin dingin), berfungsi sebagai
penampungan material agregat dari berbagai fraksi. Biasanya terdapat 4 bin atau
bak penampungan sesuai dengan jumlah fraksi. Masing- masing bin mempunyai pintu
bukaan yang akan mengatur komposisi material.
3. Hot Bin (Bin Panas), berfungsi sebagai
penampungan agregat panas yang telah lolos dari saringan panas. Agregat panas
yang lolos saringan akan mengisi tempat masing- masing sesuai dengan fraksinya.
4. Hopper (Corong tuang), berfungsi untuk
menimbang berat agregat panas dari hot bin. Hopper terletak di bawah hot bin
dan di atas pugmill.
5. Cold Elevator (Elevator dingin),
berfungsi untuk membawa agregat dingin dari cold bin.
6. Hot Elevator (Elevator panas), berfungsi
untuk membawa agregat panas yang keluar dari silinder pengering atau dryer
menuju saringan panas (hot screening) untuk dipisah sesuai ukuran agregat
masing- masing.
7. Silo, adalah silinder vertikal untuk
menyimpan campuran aspal dari mier yang tertutu rapat untuk menghindari
terjadinya oksidasi yang dapat mengakibatkan campuran menjadi keras.
8. Feeder (Pemasok), berfungsi untuk memasok
agregat dari bin dingin menuju alat pengering (dryer)
9. Filler Storage (Penampungan bahan
pengisi), berfungsi untuk menyimpan bahan pengisi (filler) sebelum diolah
menjadi aspal hotmix.
10. Belt Conveyor, berfungsi untuk memasok
agregat dari cold bin.
11. Pugmill (Pencampur), berfungsi sebagai
tempat pencampuran semua material agregat dan aspal dalam keadaan panas.
12. Burner (pengapian), berfungsi untuk
memanaskan dan mengeringkan agregat pada pengering maupun membakar aspal dalam
tangki penyimpanan.
13. Air Lock Damper (Pengatur udara), berfungsi
untuk mengatur udara saat dilakukan pengapian (burner)
14. Timer (Pengatur waktu), berfungsi untuk
mengatur lama pencampuran kering dan basah campuran beraspal di dalam alat
pencampur.
15. Drum Dryer (pengering), berfungsi sebagai
pemanas dan pengering agregat. Suhu agregat dapat mempengaruhi suhu campuran.
Alat ini bergerak berputar dan pada bagian dalamnya terdapat aliran gas yang
berfungsi untuk mengeringkan agregat. Drum diletakkan miring dengan bagian
ujung bawah terdapat pembakaran (burner) drum untuk pengering agregat.
16. Vibrator (penggetar), berfungsi sebagai
alat penggetar yang diletakkan pada pintu bukaan bin dingin dan saringan panas.
17. Dust Collector ( Pengumpul debu), tempat
pengumpulan debu yang dihasilkan dari proses pengeringan agregat.
18. Cold Bin Gate (Pintu bukaan bin dingin),
berfungsi untuk mengeluarkan agregat dari bin dingin.
19. Screen (saringan), berfungsi untuk
mengelompokkan butiran agregat sesuai dengan kelompok ukura (fraksi)
20. Hot Screen (Saringan Panas), berfungsi pada
saat proses unit saringan agregat panas.
21. Weight Bin (Bin penimbang), berfungsi
sebagai tempat menampung sekaligus menimbang agregat dari setiap fraksi agregat
yang dibutuhkan untuk tiap kali pencampuran atau batch sebelum dioperasikan bin
penimbang harus dipemeriksaan kelayakan oleh jawatan meteorologi yang
dibuktikan dengan sertifikat pemeriksaan kelayakan. Di bagian bawah bin
terdapat pintu pengeluaran yang bisa dibuka dan ditutup secara manual atau
secara otomatis.
22. Thermostat, berfungsi untuk mengatur
temperature suhu yang tidak menggunakan air raksa.
23. Timbangan, berfungsi untuk menimbang
agregat panas, aspal panas, dan filler.
24. Asphalt Control Unit, berfungsi untuk
mengontrol pemasokan aspal menuju alat pencampur (pugmill).
Asphalt Mixing Plant merupakan alat yang
cukup vital dalam proyek jalan karena dapat membantu mengejar produksi hotmix
sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu membutuhkan perawatan yang cukup baik.
Perlu Teknisi yang bisa menguasai mesin- mesin besar pada AMP.
Asphalt
Mixing Plant tipe Batch diproduksi dengan menggunakan teknologi Amerika dengan
kapasitas dari 60 TPH sampai 160 TPH.
Type,
productivity
• LB –
500, 30 – 40T/ h
• LB –
800, 48 – 64T/ h
• LB –
1000, 60 – 80T/ h
• LB –
1500, 90 – 120T/ h
• LB –
2000, 120 – 160T/ h
• LB –
3000, 180 – 240T/ h
• LB –
4000, 280 – 320T/ h
B. PROSES
PEMBUATAN JALAN (AMP)
Gambar. Bagan Alur Proses Produksi Aspal Beton.
1. Persiapan Bahan Baku
Bahan Baku Batu Pecah/Agregat. Agregat
adalah bahan utama yang digunakan untuk lapisan permukaan perkerasan jalan atau
beton, agregat ini diperoleh dari hasil penambangan batu-batuan pada
sungai-sungai yang ada di Aceh Tamiang dan daerah lainya, kemudian batu–batuan
tersebut diproses melalui mesin perengkahan Stone Crusher yang menghasilkan
beberap jenis agregat sesuai dengan yang di inginkan. dalam perkerjaan
kosntruksi menurut standar SNI (Satandar Nasional Indonesia) tentang penggunaan
agregat yang diproduksi adalah agregat dengan ukuran 1, 1/2, ¾ inch, dan abu batu pada umumnya, yang
selanjunya disimpan di gudang untuk dijadikan stock dan sebagian di simpan pada
bin-bin penampung bahan baku untuk pembuatan aspal beton pada unit AMP (Aspal
Mixing Plant). Bahan baku batu pecah/agregat dapat dilihat pada Gambar berikut.
2. Bahan Baku Aspal
Aspal ialah bahan baku yang digunakan untuk mengikat antara agregat
yang satu dengan yang lainya atau juga sebagai katalis agar agregat dapat
menjadi satu padu, kuat, keras dan tahan terhadap perubahan cuaca. Jenis aspal
yang digunakan ialah aspal emulsi yang diperoleh dari hasil penyulingan minyak
bumi. diimpor dari berbagai produsen yang ada di dalam maupun luar negeri.
Aspal emulsi dapat dilihat pada Gambar dibawah.
Gambar Aspal Emulsi
3.
Filler.
Filler adalah bahan penambah pada proses
pencampuran atara agregat dengan aspal yang berfungsi untuk menutup pori-pori
yang ada pada permukaan aspal beton yang disebabkan karena kurangnya campuran
dari gradasi agregat pada unit timbangan. Bahan pengisi yang ditambahkan
terdiri atas debu batu kapur (limestone dust), kapur padam (hydrated lime),
semen atau abu terbang yang sumbernya disetujui oleh Direksi Pekerjaaan. Bahan pengisi yang ditambahkan harus kering
dan bebas dari gumpalan-gumpalan dan bila diuji dengan pengayakan sesuai SNI
(Standar Nasional Indonesia) 03-1968-1990 harus mengandung bahan yang lolos
ayakan No.200 (75 micron) tidak kurang dari 75 % terhadap beratnya. Batu kapur
(limestone dust) sebagai filler bahan pengisi pori-pori pada aspal dapat
dilihat pada Gambar berikut:
Gambar Filler
4. Bin dingin
Bin dingin (coold bin) adalah bak tempat
menampung material agregat dari tiap-tiap fraksi mulai dari agregat halus
sampai agregat kasar yang diperlukan dalam memproduksi campuran aspal panas
(hot mix). Bagian pertama dari AMP (Aspal Mixing Plant) adalah bin dingin,
yaitu tempat penyimpanan fraksi agregat kasar, agregat sedang, agregat halus
dan pasir. Bin dingin harus terdiri dari minimum 3 sampai 5 bak penampung
(bin). Masing-masing bin berisi agregat dengan gradasi tertentu.
Agregat-agregat tersebut harus terpisah satu sama lain, untuk menjaga keaslian
gradasi dari masing masing bin sesuai dengan rencana campuran kerja (RCK).
Untuk memisahkannya, dapat dipasang pelat baja pemisah antara bin. Dengan
demikian maka loader (alat pengangkut) yang digunakan mengisi masing-masing bin
harus mempunyai bak (bucket) yang lebih kecil dari mulut pemisah masing-masing
bin. Jika pemisah tidak ada maka pengisian masing-masing bin tidak boleh
berlebih yang dapat berakibat tercampurnya agregat. Bin dingin (cool bin) yang
digunakan dapat dilihat pada Gambar
berikut:
Gambar Bin Dingin (cool bin)
5. Proses Pengeringan Agregat Pada Unit Dryer
Agregat yang diperoleh dari hasil
penambangan dan telah diproses di unit stone crusher yang kemudian disimpan
pada bin-bin dingin (Cool bin) yang sesuai dengan ukuran masing-masing selanjutnya
disuplai atau diangkut menuju dryer dengan menggunakan belkonveyor untuk
dikeringkan dengan unit dryer tujuannya untuk menghilangkan kadar air, kadar
air harus seminim mungkin karena kalau
tidak akan berpengaruh pada pencampuran aspal nantinya. Proses pengeringan pada
dryer adalah dengan cara membakar agregat di dalam kilen yang berputar dengan
suhu ±1500 C proses pembakaran dengan menggunakan bahan bakar solar lama
pembakaran ini belangsung selama ± 45 detik dengan kapasitas ± 80 ton/jam.
Pada unit
pengering (dryer) perlu diperhatikan beberapa faktor agar diperoleh campuran
beraspal yang memenuhi syarat, yaitu antara lain:
Kalibrasi
alat pengukur temperatur dan pemeriksaan temperatur pemanasan. Perubahan
kuantitas agregat yang masuk ke unit pengering akibat dari pengaturan bukaan
bin dingin dapat menyebabkan pemanasan berlebih (jumlah agregat yang masuk
berkurang sementara panas pembakar tetap).
Pembakaran
harus sempurna, hal ini dapat diindikasikan dari warna asap yang keluar dari
cerobong asap adalah putih dan nyala api pembakaran berwarna biru. Warna asap
yang hitam menandakan pembakaran tidak sempurna. Contoh dari akibat pembakaran
yang tidak sempurna adalah, pada saat pengambilan agregat dari hot bin, agregat
terlihat berwarna hitam terselimuti jelaga. Akibat dari hal tersebut aspal
tidak dapat masuk ke pori-pori agregat dan juga tidak dapat melekat dengan baik
ke agregat.
Kadar air
pada agregat harus seminimum mungkin, oleh karena itu dilakukan pemeriksaan
kadar air secara cepat; diambil contoh secukupnya, kemudian dilewatkan pada
cermin yang kering, atau spatula diatas agregat tersebut. Diamati jumlah kadar
air yang mengembun pada permukaan cermin atau spatula. Agregat yang masih
mengandung kadar air akan menghalangi melekatnya aspal ke agregat, sehingga
campuran beraspal berprilaku seolah-olah kelebihan aspal. Unit dryer yang ada
pada PT. Xxxx dapat dilihat pada Gambar berikut:
Gambar Unit Dryer
6. Pengumpul Debu (dust collector)
Alat pengumpul debu (dust collector) harus
berfungsi sebagai alat pengontrol polusi udara di lingkungan lokasi AMP (aspal
mixing plant). Gas buang yang keluar dari sistem pengering ditambah dengan
dorongan kipas pengeluar (exhaust fan) akan dialirkan ke pengumpul debu. Alat
pengumpul debu yang tidak berfungsi dengan baik akan menyebabkan terjadinya
polusi udara, dan ini terlihat jelas dari adanya kotoran atau debu di
pohon-pohon atau atap rumah di sekitar lokasi AMP (Aspal Mixing Plant). Pada
PT. Bahtera Karang Raya yang digunakan adalah sistem pengumpul debu jenis basah
(wet scrubber dust collector), debu yang terbawa gas buangan disemprot dengan
air, sehingga partikel berat akan terjatuh ke bawah dan gas yang telah bersih
keluar dari cerobong asap. Partikel berat tersebut kemudian dialirkan ke bak penampung
(bak air). Jika pada bak air penampung terlihat jelaga yang mengambang dengan
jumlah yang cukup banyak, maka hal ini menunjukkan terjadi pembakaran yang
tidak sempurna pada pengering (dryer). Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan
maka dilakukan koreksi atau perbaikan pada pengering (dryer). Gamabr Pengumpul
debu (dust collector) dapat dilihat pada Gambar berikut.
Gambar
Pengumpul Debu (dust collector)
7. Proses Pemisahan Agregat Pada Hot Screen
Agregat yang panas yang telah melalui
proses pembakaran dari dryer selanjutnnya di bawa oleh hot elevator menuju ke
atas tower untuk di lakukan pemisahan pada hot screen, peroses pemisahan agregat ini adalah dengan cara
gravitasi agregat dijatuhkan pada ayakan/screen yang dirancang sedikit miring
agar dapat mengayak atau memisahkan agregat sesuai dengan ukurannya masing-masing. Pada screen dilengkapi alat
bantu yaitu vibrator yang berfungsi untuk menggetarkan ayakan agar terjadi
ayakan yang optimal. Agregat yang telah disaring/dipisahkan berdasarkan
ukurannya kemudian masuk pada unit hot bin guna untuk menampung sementara
agregat yang akan masuk pada timbangan.
Pemasangan saringan pada unit ayakan panas
harus tidak pada ukuran yang berdekatan. Contoh susunan ayakan untuk campuran
beraspal dengan ukuran butir agregat maksimum 19 mm adalah :
Saringan
pertama/teratas berukuran 19 mm, butir agregat yang ukurannya lebih besar
(oversize) dibuang ke saluran pembuangan.
Saringan
kedua berukuran 12,5 mm (1/2 inchi). Ukuran butir agregat antara 19 mm sampai
12,5 mm masuk ke bin 1.
Saringan
ketiga berukuran 4,75 mm (No. 4). Ukuran butir agregat antara 9,5 sampai dengan
4,75 mm masuk ke bin 2.
Saringan
keempat berukuran 2,36 mm (No. 8). Ukuran butir agregat antara 4,75 sampai
dengan 2,36 mm masuk ke bin 3. Sementara agregat yang lolos saringan 2,36 mm
masuk ke bin 4. Alat hot screen dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar Hot Screen
8. Bin panas (hot binn)
Bin panas (hot bin) dipasang pada AMP
(aspal mixing plant) jenis takaran (batch).
Pada AMP (aspal mixing plant) jenis takaran umumnya akan terdapat 4 bin yang
dilengkapi dengan pembatas yang rapat dan kuat dan tidak boleh berlubang serta
mempunyai tinggi yang tepat sehingga mampu menampung agregat panas dalam
berbagai ukuran fraksi yang telah dipisah-pisahkan melalui unit ayakan panas.
Pada bagian bawah dari tiap bin panas harus dipasang saluran pipa untuk
membuang agregat yang berlebih dari tiap bin panas yang dapat dioperasikan
secara manual atau otomatis. Jika agregat halus masih menyisakan kadar air
(pengering kurang baik) setelah pemanasan, maka agregat yang sangat halus
(debu) akan menempel dan menggumpal pada dinding bin panas dan akan jatuh
setelah cukup berat. Hal tersebut dapat menyebabkan perubahan gradasi agregat,
yaitu penambahan material yang lolos saringan No. 2000.
9.
Timbangan
Timbangan adalah alat yang digunakan untuk
menakar/menimbang jumlah masing-masing agregat sesuai dengan komposisi yang
telah ditentukan, proses penimbanga dilakukan dengan sistem komputerisasi/otomatis.
sebelum timbangan digunakan timbangan telebih dahulu dikalibrasi agar hasil
timbangan dapat akurat biasanya timbangan dikalibrasi dengan bobot teringanya
10 kg, ini dikarenakan berat jenis dari agregat yang terlalu tinggi sehingga
timbangan tidak akan akurat/ tidak dapat membaca apabila agregat yang ditimbang
di bawah 10 kg.
Faktor-faktor
penting pada unit timbangan agregat yang perlu mendapat perhatian antara lain
sebagai berikut :
1. Kalibrasi timbangan.
2. Weigh box tergantung bebas.
3. Kontrol harian terhadap kinerja operator
AMP (aspal mixing plant).
Timbangan
agregat dapat dilihat pada Gambar berikut.
9. Proses
Pemanasan Aspal Padat Pada Boiler Fire Tube.
Dalam
proses pencampuran aspal ini penulis menjelaskannya secara terperinci pada BAB
4 sebagai tugas khusus yang berkaitan dengan proses pemanasan aspal dan
pencampurannya pada mixer.
10.
Proses Akhir Mixer.
Mixer adalah alat untuk proses pencampuran
dimana agregat yang telah dipanaskan dan telah melalui timbangan ditakar sesuai
dengan komposisi yang diinginkan selanjutnya dituangkan kedalam mixer dengan
membuka pintu bin panas menggunakan sistem hidrolik yang dikendalikan secara
otomatis/manual.
Proses
pencampuran pada mixer adalah proses pencampuran antara agregat panas, aspal,
dan filler dengan suhu ± 1500C cara pengadukan dilakukan dengan memutar
poros pengaduk dengan menggunakan motor listrik lama pengadukan antara 30-40
detik pengadukan dengan kapasitas 800 kg/ 30-40 detik setelah itu agregat yang
telah sehomogen mungkin dicampurkan maka akan dituang langsung ke dalam truk pengankut dengan cara membuka
pintu bukaan yang ada pada bagian bawah mixer dengan control hidrolik. Campuran
aspal beton yang telah keluar dari mixer ini bersuhu ± 1500C dan setiap jamnya suhunya akan
berkurang ± 2.5 - 50C. Alat mixer dapat dililat pada Gambar berikut
Gambar Mixer
11.
Tenaga penggerak (genset).
Untuk menjalankan semua bagian-bagian
atau komponen-komponen AMP sumber tenaga utamanya adalah generator set atau
genset. Pada umumnya genset ini diputar oleh mesin diesel. Kekuatan atau
kapasitas genset ini berkapasitas 250 KVA (Kilo Volt Ampere) cukup untuk
melayani kebutuhan motor-motor listrik yang dipakai serta peralatan-peralatan
lain yang memakai tenaga listrik dan untuk penerangan. Semua
sambungan-sambungan aliran listrik harus tertutup untuk mencegah arus pendek
serta untuk keamanan lingkungan. Genset yang dipergunakan pada unit Asphalt
Mixing Plant dapat dilihat pada Gambar berikut:
Gambar
Genset
ALIF TRYHARTONO
"TERIMA KASIH"





























