Jumat, 26 Juni 2020

TJR III ALIF TRYHARTONO 417110004



Jenis-jenis Kerusakan pada Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) dan Rigid pavement

1.  Retak (Crack)
Retak adalah suatu gejala kerusakan permukaan perkerasan sehingga akan menyebabkan air pada permukaan perkerasan masuk ke lapisan dibawahnya dan hal ini merupakan salah satu factor yang akan membuat luas/parah suatu (DepartemenPekerjaan Umum, 2007). Didalam pendekatan mekanika retak diasumsikan ada bagian yang lemah pada setiap material. Ketika pembebanan terjadi, ada konsentrasi tegangan yang lebih tinggi disekitar bagian tersebut, sehingga material tersebut tidak lagi memiliki distribusi tegangan yangseragam dan terjadilah kerusakan/ retak pada bagian tersebut dan berkembang ke bagian yang lainnya. Mekanika retak juga menggambarkan perkembangan retak tergantung pada sifat material tersebut (Roque, 2010).
Retak/craking yang umum diikenal dapat dibedakan atas :

ARetak Halus (Hair Cracking)

Yang dimaksud retak halus adalah retak yang terjadi mempunyai lebar celah ≤ 3 mm. Sifat penyebarannya dapat setempat atau luas pada permukaan jalan.
  • Kemungkinan penyebab:
1. Bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik.
2. Pelapukan permukaan.
3. Air tanah pada badan perkerasan jalan.
4. Tanah dasar/ lapisan dibawah permukaan kurang stabil.
  • Akibat lanjutan:
  1. Meresapnya air pada badan jalan sehingga mempercepat kerusakan dan menimbulkan ketidak-nyamanan berkendaraan.
A. Berkembang menjadi retak buaya (alligator cracks).
Dalam tahap perbaikan, sebaiknya dilengkapi dengan sitem aquaproof. diman jika dibiarkan berlarut-larut retak rambut dapat berkembang menjadi retak buaya.

B. Retak Kulit Buaya (Alligator Cracks)

Lebar celah retak ≥ 3 mm dan saling berangkai membentuk serangkaian kotak-kotak kecil yang menyerupai kulit buaya atau kawat untuk kandang ayam. Umumnya daerah dimana terjadi retak kuliat buaya tidak luas. Jika daerah terjadi retak kulit buaya luas, mungkin hal ini disebabkan oleh repetisi beban lalulintas yang melampaui beban yang dapat dipikul oleh lapisan permukaan tersebut.
  • Kemungkinan penyebab:
1. Bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik.
2. Pelapukan permukaan.
3. Air tanah pada badan perkerasan jalan
4. Tanah dasar/ lapisan dibawah permukaan kurang stabil.
  • Akibat lanjutan:
a. Kerusakan setempat/ menyeluruh pada perkerasan.
b. Berkembang menjadi lubang akibat dari pelepasan butir-butir.
Untuk pemeliharaan dapat digunakan lapis burda, burtu, ataupun lataston. Jika celah≤ 3mm, sebaiknya bagian perkerasan yang telah mengalami retak kulit buaya akibat rembesan air ke lapis pondasi dan tanah dasar diperbaiki dengan cara dibongkar dan dibuang bagian-bagian yang basah, kemudian dilapis kembali dengan bahan yang sesuai. Perbaikan harus disertai dengan perbaikan drainase disekitarnya. Kerusakan yang disebabkan oleh beban lalulintas harus diperbaiki dengan memberi lapisan tambahan.

C. Retak Pinggir  (edge crack)

Retak ini disebut juga dengan retak garis (lane cracks) dimana terjadi pada sisi tepi perkerasan/ dekat bahu dan berbentuk retak memanjang (longitudinal cracks) dengan atau tanpa cabang  yang  mengarah  ke bahu. Retak ini dapat terdiri atas beberapa celah yang saling sejajar.
  • Kemungkinan penyebab:
1. Bahan dibawah retak pinggir kurang baik atau perubahan volume akibat jeni sekspansif clay pada tanah dasar .
2. Sokongan bahu samping kurang baik.
3. Drainase kurang baik.
4. Akar tanaman yang tumbuh ditepi perkerasan dapat pula menjadi sebab terjadinya retak tepi
  • Akibat lanjutan:
a Kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan sehingga mengganggu kenyamanan berkendaraan.
b. Retak akan berkembang menjadi besar yang diikuti oleh pelepasan butir padatepi retak.
Cara perbaikan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair & pasir. Perbaikan drainase harus dilakukan, bahu diperlebar, dan dipadatkan, jika pinggir perkerasan mengalami penurunan, elevasi dapat diperbaiki dengan mempergunakan hotmix.

D. Retak Sambungan Bahu Perkerasan (edge joint crack)

Sesuai dengan namanya retak ini umumnya terjadi pada daerah sambungan perkerasan dengan bahu yang beraspal. Retak ini berbentuk retak memanjang (longitudinal cracks) dan biasanya terbentuknya pada permukaan bahu beraspal. Retak ini dapat terdiri atas beberapa celah yang saling sejajar.
  • Kemungkinan penyebab:
1. Perbedaan ketinggian antara bahu beraspal dengan perkerasan, akibat penurunan bahu.
2. Penyusutan material bahu/ badan perkerasan jalan
3. Drainase kurang baik.
4. Roda kendaraan berat yang menginjak bahu beraspal.
5. Material pada bahu yang kurang baik/ kurang memadai.
  • Akibat lanjutan:
a. Menimbulkan kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan akibat meresapnya air pada badan jalan dan mengganggu kenyamanan berkendaraan.
b. Berkembang menjadi besar yang diikuti oleh pelepasan butir pada tepi retak.
Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir.

E. Retak Sambungan Jalan (lane joint crack)

Sesuai dengan namanya retak ini terjadi pada sambungan dua jalur lalu lintas dan berbentuk retak memanjang (longitudinal cracks). Retak ini dapat terdiri atas beberapa celah yang saling sejajar.
Kemungkinan penyebabnya adalah ikatan sambungan kedua jalur yang kurang baik.
  • Akibat lanjutan:
a. Kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan dan akanmengganggu kenyamanan berkendaraan.
b. Lepasnya butir pada tepi retak dan bertambah lebar.
Perbaikan dapat dilakukan dengan memasukkan campuran aspal cair dan pasir kedalam celah-celah yang terjadi.
F. Retak Sambungan Pelebaran Jalan (widening crack)
Bentuk retak ini adalah retak memanjang (longitudinal cracks) yang akan terjadi pada sambungan antara perkerasan lama dengan perkerasan pelebaran. Retak ini dapat terdiri atas beberapa celah yang saling sejajar dan akan meresapkan air pada lapisan perkerasan.
  • Kemungkinan penyebab:
1. Ikatan sambungan yang kurang baik.
2. Perbedaan kekuatan/ daya dukung perkerasan pada jalan pelebaran dengan jalanlama.
  • Akibat lanjutan:
a. Menimbulkan kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan danakan mengganggu kenyamanan berkendaraan.
b. Lepasnya butir pada tepi retak sehingga kerusakan akan bertambah parah.
Perbaikan dilakukan dengan mengisi celah-celah dengan campuran aspal cair dan pasir.

G. Retak Refleksi (reflection crack)

Kerusakan ini terjadi pada lapisan tambahan (overlay), dapat berbentuk memanjang(longitudinal cracks), diagonal (diagonal cracks), melintang (transverse cracks), ataupun kotak (blocks cracks) yang menggambarkan pola retakan perkerasandibawahnya. Retak ini dapat terjadi bila retak pada perkerasan lama tidak diperbaikisecara benar sebelum pekerjaan pelapisan ulang (overlay) dilakukan.
  • Kemungkinan penyebab:
1. Pergerakan vertikal/ horizontal di bawah lapis tambahan (lapisan overlay)sebagai akibat perubahan kadar air pada tanah dasar yang ekspansif.
2. Perbedaan penurunan ( settlement  ) dari timbunan/ pemotongan badan jalandengan struktur perkerasan.
  • Akibat lanjutan:
a. Kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan dan akanmengganggu kenyamanan berkendaraan.
b. Lepasnya butir pada tepi retak sehingga kerusakan akan bertambah parah.Untuk retak memanjang, melintang dan diagonal perbaikan dapat dilakukan denganmengisi celah-celah dengan campuran aspal cair dan pasir.
Untuk retak berbentuk kotak, perbaikan dilakukan dengan membongkar dan melapis kembali dengan bahan yang sesuai.

H. Retak Susut (shrinkage crack)

Retak yang terjadi tersebut saling bersambungan membentuk kotak besar dengan sudut tajam atau dapat dikatakan suatu interconnected cracks yang membentuk suatu seri blocks cracks. Umumnya penyebaran retak ini menyeluruh pada perkerasan jalan.
  • Kemungkinan penyebab:
1. Perubahan volume perkerasan yang mengandung terlalu banyak aspal dengan penetrasi rendah.
2. Perubahan volume pada lapisan pondasi dan tanah dasar.
  • Akibat lanjutan:
. Retak ini akan menyebabkan meresapnya air pada badan jalan sehingga akan menimbulkan kerusakan setempat atau menyeluruh pada perkerasan jalan danmengganggu kenyamanan berkendaraan.
b. Lepasnya butir pada tepi retak sehingga timbul lubang (  potholes ).
Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir, dan dilapis dengan burtu.

I. Retak Selip (slippage crack)

Kerusakan ini sering disebut dengan  parabolic cracks, shear cracks, atau crescent  shaped cracks. Bentuk  retak lengkung menyerupai bulan sabit atau berbentuk seperti jejak mobil disertai dengan beberapa retak. Kadang-kadang terjadi bersama denganterbentuknya sungkur ( shoving ).
  • Kemungkinan penyebab:
1.Ikatan antar lapisan aspal dengan lapisan bawahnya tidak bail yang disebabkan kurangnya aspal/ permukaan berdebu
2. Pengunaan agregat halus terlalu banyak.
3. Lapis permukaan kurang padat/ kurang tebal
4. Penghamparan pada temperature aspal rendah atau tertarik roda penggerak olehmesin penghampar aspal/ mesin lainnya.
  • Akibat lanjutan:
a. Kerusakan setempat atau menyeluruh pada perkerasan jalan dan akanmengganggu kenyamanan berkendaraan.
b. Lepasnya butir pada tepi retak sehingga timbul lubang ( potholes).
Perbaikan dapat dilakukan dengan membongkar bagian jalan yang rusak dan menggantikannya dengan lapisan yang lebih baik.

2. DISTORSI (DISTORTION)

Jenis kerusakan lentur atau flexible berupa distorsi dapat terjadi atas lemahnyatanah dasar, pemadatan yang kurang pada lapis pondasi sehingga terjadi tambahan pemadatan akibat beban lalu lintas. Untuk kerusakan jalan yang satu ini dibagi atas beberapa jenis diantaranya:

A. Alur (ruts)

Terjadi pada lintasan roda sejajar dengan as jalan, dapat merupakan tempatmenggenangnya air hujan yang jatuh di atas permukaan jalan, mengurangi tingkat kenyamanan dan akhirnya timbul retak-retak. Kemungkinan disebabkan oleh lapis perkerasan yang kurang padat, dengan demikian terjadi penambahan pemadatan akibat repetisi beban lalu lintas pada lintasanroda. Campuran aspal stabilitas rendah dapat pula menimbulkan deformasi plastis.
Perbaikan dapat dilakukan dengan memberi lapisan tambahan yang sesuai.

B. Keriting (corrugation)

  • Kemungkinan penyebab:
1.Rendahnya stabilitas campuran yang dapat berasal dari terlalu tingginya kadar aspal
2.Banyak menggunakan agregat halus, agregat bulat dan licin
3.Aspal yang dipakai mempunyai penetrasi yang tinggi
4.Lalu lintas dibukia sebelum perkerasan mantap.
Keriting dapat diperbaiki dengan cara :
a. Jika lapisan memiliki pondasi agregat, digaruk kembali, dicampur dengan lapis pondasi, dipadatkan dan diberi lapis perkerasan baru.
b. Bahan pengikat mempunyai ketebalan >5cm, lapis tersebut diangkat dan diberi lapisan baru.

C. Sungkur (shoving)

Deformasi plastis yang terjadi setempat di tempat kendaraan sering berhenti, kelandaian curam, dan tikungan tajam. Kerusakan dapat terjadi dengan atau tanpa retak.Penyebab kerusakan sama dengan keriting. Perbaikan dilakukan dengan dibongkar dan dilakukan pelapisan kembali.

D. Amblas (grade depression)

Terjadi setempat/tertentu dengan atau tanpa retak, terdeteksi dengan adanya air yang tergenang. Amblas disebabkan oleh beban kendaraan yang melebihi apa yang direncanakan, pelaksanaan yang kurang baik, atau penurunan bagian perkerasan dikarenakan tanah dasar mengalami settlement.
  • Perbaikan dapat dilakukan dengan cara:
a. Untuk amblas yang ≤ 5cm, bagian yang pernah diisi dengan bahan yang sesuai lapen, lataston, laston.
b. Untuk amblas yang ≥ 5cm, bagian yang amblas dibongkar dan dilapis kembali dengan lapis yang sesuai

E. Jembul (upheaval)

Jenis kerusakan Jembul terjadi setempat dengan atau tanpa retak. Hal ini terjadi akibat adanya pengembangan tanah dasar ekspansip. Perbaikan dilakuan dengan membongkar bagian yang rusak dan melapisinya kembali.

3. CACAT PERMUKAAN (DISINTEGRATION)

Jenis kerusakan yang satu ini mengarah pada kerusakan secara kimiawi &mekanis dari lapisan permukaan, yang termasuk cacat permukaan adalah sebagai berikut:

A. Lubang ( Potholes )

Kerusakan jalan berbentuk lubang (potholes) memiliki ukuran yang bervariasi dari kecil sampai besar. Lubang-lubang ini menampung dan meresapkan air sampaike dalam lapis permukaan yang dapat menyebabkan semakin parahnya kerusakan jalan.
  • Proses pembentukan lubang dapat terjadi akibat :
  1. Campuran lapis permukaan yang buruk seperti :
a)      Kadar aspal rendah, sehingga film aspal tipis dan mudah lepas.
b)      Agregat kotor sehingga ikatan antar aspal dan agregat tidak baik.
c)      Temperature campuran tidak memenuhi persyaratan.
2.  Lapis permukaan tipis sehingga lapisan aspal dan agregat mudah lepas akibat pengaruh cuaca.
3. System drainase jelek sehingga air banyak yang meresap dan mengumpul dalam lapis perkerasan.
4. Retak-retak yang terjadi tidak segera ditangani sehingga air meresap masuk dan mengakibatkan terjadinya lubang-lubang kecil.
Untuk perbaikan maka lubang-lubang tersebut harus dibongkar dan dilapis kembali dimana pembongkaran berfungsi untuk meningkatkan daya cengkram antar sambungan perkerasan yang baru dan perkerasan yang lama.

B. Pelepasan butir (raveling)

Dapat terjadi secara meluas dan mempunyai efek serta disebabkan oleh halyang sama dengan lubang. Dapat diperbaiki dengan meberikan lapisan tambahan di atas lapisan yang mengalami pelepasan butir setelah lapisan tersebut dibersihkan dan dikeringkan

C. Pengelupasan Lapisan Permukaan (stripping)

Setelah itudilapis dengan buras. Disebabkan oleh kurangnya ikatan antar lapis permukaan dan lapis bawahnya atau terlalu tipisnya lapis permukaan. Dapat diperbaiki dengan cara digaruk, diratakan, dan dipadatkan. Setelah itu dilapis dengan buras. Disebabkan oleh kurangnya ikatan antar lapis permukaan dan lapis bawahnya

4. PENGAUSAN (POLISHED AGGREGATE)

Pengausan terjadi karena agregat berasal dari material yang tidak tahan aus terhadap roda kendaraan / agregat yang digunakan berbentuk bulat dan licin.Dapat diatasi dengan latasir, buras, latasbum.

5. KEGEMUKAN (BLEEDING / FLUSHING)

Pada temperature tinggi, aspal menjadi lunak, dan akan terjadi jejak roda, dapatdisebabkan pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal, pemakaian terlalu banyak aspal pada pengerjaan prime coat / teak coat. Dapat diatasi dengan menaburkan agregat panas dan kemudian dipadatkan, atau lapis aspal diangkat dan diberi lapisan penutup.
TIPE TIPE KERUSAKAN PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT)
Jenis – jenis kerusakan pada perkerasan kaku (rigid pavement)
Menurut DPU (1991) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina 
Marga, jenis-jenis kerusakan pada perkerasan beton terdiri dari : 
a. Kerusakan disebabkan oleh karakteristik permukaan.
1) Retak setempat, yaitu retak yang tidak mencapai bagian 
bawah dari slab.
2) Patahan (faulting), adalah kerusakan yang disebabkan oleh 
tidak teraturnya susunan di sekitar atau di sepanjang lapisan 
bawah tanah dan patahan pada sambungan slab, atau retak - 
retak.
3) Deformasi, yaitu ketidak rataan pada arah memanjang jalan.
4) Abrasi, adalah kerusakan permukaan perkerasan beton yang 
dapat dibagi menjadi:
 Pelepasan Butir, yaitu keadaan dimana agregat lapis 
permukaan jalan terlepas dari campuran beton sehingga 
permukaan jalan menjadi kasar.
 Pelicinan (polishing), yaitu keadaan dimana campuran beton dan agregat pada permukaan menjadi amat licin 
disebabkan oleh gesekan - gesekan.
 Aus, yaitu terkikisnya permukaan jalan disebabkan 
oleh gesekan roda kendaraan.
b. Kerusakan struktur 
1) Retak - retak, yaitu retak – retak yang mencapai dasar slab. 
2) Melengkung (buckling), yang terbagi menjadi:
 Jembul (Blow up), yaitu keadaan dimana slab menjadi 
tertekuk dan melengkung disebabkan tegangan dari 
dalam beton.
 Hancur, yaitu keadaan dimana slab beton mengalami 
kehancuran akibat dari tegangan tekan dalam beton. 
Pada umumnya kehancuran ini cenderung terjadi 
disekitar sambungan.

Selasa, 23 Juni 2020

Campuran Flexibel Pavement, Campuran Reged Pavement, & Campuran Komposit Pavement




(1). Komposisi pembentuk campuran Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) terdiri atas:
Perkerasan lentur merupakan campuran agregat batu pecah, pasir, material pengisi (filler), dan aspal yang kemudian dihamparkan lalu dipadatkan

A.Tanah Dasar (sub grade)
Tanah Dasar adalah permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan tanah timbunan, yang dipadatkan dan merupakan permukaan dasar untuk perletakan bagian-bagian perkerasan lainnya.
Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat- sifat dan daya dukung tanah dasar. Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut:
  1. Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) dari macam tanah tertentu akibat beban lalu lintas.
  2. Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat perubahan kadar air.
  3. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah dengan macam tanah yang sangat berbeda sifat dan kedudukannya, atau akibat pelaksanaan.
B. Lapis Pondasi Bawah (sub base course)
Lapis Pondasi Bawah adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar.
Fungsi lapis pondasi bawah antara lain:
  1. Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan menyebarkan beban roda.
  2. Mencapai efisiensi penggunaan material yang relatif murah agar lapisan-lapisan selebihnya dapat dikurangi tebalnya (penghematan biaya konstruksi).
  3. Untuk mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapis pondasi.
  4. Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan dapat berjalan lancar.
Hal ini sehubungan dengan terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap roda-roda alat-alat besar atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh cuaca.
Bermacam-macam tipe tanah setempat (CBR > 20%, PI < 10%) yang relatif lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai bahan pondasi bawah. Campuran-campuran tanah setempat dengan kapur atau semen portland dalam beberapa hal sangat dianjurkan, agar dapat bantuan yang efektif terhadap kestabilan konstruksi perkerasan.
C. Lapis Pondasi (base course)
Lapis Pondasi adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis permukaan dengan lapis pondasi bawah (atau dengan tanah dasar bila tidak menggunakan lapis pondasi bawah).
Fungsi lapis pondasi antara lain:
  1. Sebagai bagian perkerasan yang menahan beban roda,
  2. Sebagai perletakan terhadap lapis permukaan.
Bahan-bahan untuk lapis pondasi umumnya harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban roda. Sebelum menentukan suatu bahan untuk digunakan sebagai bahan pondasi, hendaknya dilakukan penyelidikan dan pertimbangan sebaik-baiknya sehubungan dengan persyaratan teknik.
Bermacam-macam bahan alam / bahan setempat (CBR > 50%, PI < 4%) dapat digunakan sebagai bahan lapis pondasi, antara lain : batu pecah, kerikil pecah dan stabilisasi tanah dengan semen atau kapur.
D. Lapis Permukaan (surface course)
Lapis Permukaan adalah bagian perkerasan yang paling atas. Fungsi lapis permukaan antara lain:
  1. Sebagai bahan perkerasan untuk menahan beban roda
  2. Sebagai lapisan rapat air untuk melindungi badan jalan kerusakan akibat cuaca.
  3. Sebagai lapisan aus (wearing course).
Bahan untuk lapis permukaan umumnya adalah sama dengan bahan untuk lapis pondasi, dengan persyaratan yang lebih tinggi. Penggunaan bahan aspal diperlukan agar lapisan dapat bersifat kedap air, disamping itu bahan aspal sendiri memberikan bantuan tegangan tarik, yang berarti mempertinggi daya dukung lapisan terhadap beban roda lalu lintas.
Pemilihan bahan untuk lapis permukaan perlu dipertimbangkan kegunaan, umur rencana serta pentahapan konstruksi, agar dicapai manfaat yang sebesar-besarnya dari biaya yang dikeluarkan.

(2) komposisi pembentuk Campuran Rigid Pavement?
Perkerasan kaku (rigid pavement) adalah suatu perkerasan jalan yang terdiri atas plat beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah di atas tanah dasar. Karena memakai beton sebagai bahan bakunya, perkerasan jenis ini juga biasa disebut sebagai jalan beton. Dalam konstruksinya, plat beton sering dinamakan lapis pondasi sebab adanya kemungkinan lapisan aspal beton di atasnya sebagai lapis permukaan.
  1. Perkerasan kaku dengan sambungan tanpa tulangan untuk kendali retak.
  2. Perkerasan kaku dengan sambungan dan tulangan untuk kendali retak. Bagian yang berperan sebagai kendali retak yakni wire mesh yang dipasang di antara siar yang dipakai secara independen terhadap tulangan dowel.
  3. Perkerasan kaku dengan tulangan tanpa sambungan. Tulangan yang digunakan berupa baja tulangan yang mengandung besi sebanyak 0,02% dari luas penampang beton
Dari ketiga jenis perkerasan kaku di atas, perkerasan kaku dengan tulangan tanpa sambungan atau yang disebut perkerasan beton bertulang menerus adalah jenis yang paling banyak digunakan terutama di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.

1. Tanah Dasar,Kapasitas daya dukung tanah ditentukan oleh CBR insitu sesuai SNI 03-1731-1989 atau CBR laboratorium sesuai SNI 03-1744-1989. Masing-masing dari standar tersebut mengatur tentang perencanaan tebal perkerasan lama perkerasan jalan baru. Jika tanah dasar mempunyai nilai CBR di bawah 2%, maka perlu digunakan pondasi bawah yang terbuat dari beton setebal 15 cm sehingga nilai CBR tanah tersebut meningkat dan dianggap lebih dari 5%. Adapun campuran bahan-bahan yang dipakai untuk membuat pondasi bawah beton ini yaitu material berbutir, stabilisasi dengan beton giling padat, dan campuran beton kurus.

2. Beton Semen,Kekuatan beton semen dinyatakan dalam nilai kuat tarik uji lentur saat usianya mencapai 28 hari setelah pembuatan. Nilai ini didapatkan dari hasil pengujian balok dengan pembebanan tiga titik sesuai ASTM C-78 yang besarnya secara tipikal berkisar antara 3-5 Mpa atau 30-50 kg/cm2. Pembangunan beton semen ini juga bisa diperkuat menggunakan serat baja untuk menaikkan nilai kuat tarik lenturnya dan mengendalikan risiko keretakan pada plat.

3. Lalu Lintas,Penentuan terhadap beban lalu lintas dinyatakan dalam jumlah sumbu kendaraan sesuai dengan konfigurasi sumbu pada lajur rencana selama usia perencanaan. Sedangkan analisis terhadap lalu lintas dilakukan menurut hasil perhitungan volume lalu lintas dan konfigurasi sumbu berdasarkan data terbaru minimal 2 tahun terakhir. Kendaraan-kendaraan yang ditinjau dan dimasukkan ke dalam data ialah kendaraan yang mempunyai bobot total paling sedikit seberat 5 ton.

4. Bahu,Bagian bahu perkerasan kaku bisa dibuat dari material lapisan pondasi bawah dengan atau tanpa lapisan penutup beraspal atau lapisan beton semen. Bahu beton semen ialah bahu yang dikunci dan diikat pada lajur lalu lintas yang memiliki ukuran lebar minimal 1,5 m atau bahu yang menyatu dengan lajur lalu lintas selebar 0,6  m termasuk saluran dna kereb

5. Sambungan,Sambungan pada perkerasan kaku mempunyai panel yang bentuknya diusahakan sepersegi mungkin dengan perbandingan panjang dan lebar maksimal sebesar 1,25. Jarak maksimum sambungan memanjang ialah 3-4 m serta jarak maksimum sambungan melintang maksimum adalah 5 m atau 25 kali tebal plat. Antar sambungan ini kemudian dihubungkan pada satu titik untuk menghindari terjadinya retak refleksi pada lajur yang bersebelahan. Sudut sambungan yang kurang dari 60 derajat wajib dihindari dengan cara mengatur panjang terakhir 0,5 m dan dibuat tegak lurus terhadap bagian tepi perkerasan. Semua bangunan lain juga harus dari perkerasan menggunakan sambungan muai selebar 12 mm mencakup keseluruhan tebal plat
(3). Campuran Komposite pavement
Komposite pavement yaitu gabungan dari campuran dari Flexibel pavement dan Rigid pavement. 

Composite pavement (gabungan rigid dan flexible pavement).
          Perkerasan komposit merupakan gabungan konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement) dan lapisan perkerasan lentur (flexible pavement) di atasnya, dimana kedua jenis perkerasan ini bekerja sama dalam memilkul beban lalu lintas. Untuk ini maka perlua ada persyaratan ketebalan perkerasan aspal agar mempunyai kekakuan yang cukup serta dapat mencegah retak refleksi dari perkerasan beton di bawahnya.

Minggu, 21 Juni 2020

Aspal Sahrul Harapan

. JENIS-JENIS ASPAL
A.    ASPAL ALAM
Aspal alam adalah aspal yang berasal langsung dari alam tanpa melewati serangkaian proses pengolahan yang rumit. Aspal alam yang berbentuk batuan bisa diproleh di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Aspal alam yang bersifat plastis bisa pengolahan yang rumit, ditemukan di pulau Pitch, republic Trinidad. Sedangkan aspal yang memiliki wujud berada disekitar perairan segitiga Bermuda. Berbeda dengan segitiga Bermuda yang mengandung aspal murni, kandungan aspal yang berada di Pulau Buton dan Danau Pitch tidak murni dan tercampur dengan mineral yang lain. Material aspal yang berasal dari alam di dapat dari prose salami, baik dari gunung aspal maupun dari danau.
a)      Aspal Batu / Rock Asphalt
Aspal gunung juga sering di sebut dengan aspal batu. Di Indonesia sumber daya alam aspal terbesar didapat dari pulau buton yang gunung aspalnya dikenal dengan sebutan asbuton. Jenis aspal tersebut juga sering di sebut BUTAS (Buton Aspal), terdapat pada batu-batu karang sehingga bercampur dengan kapur (CaCo). Umumnya berupa susunan Bahan 35% bitumen, 60% bahan mineral, dan 5% bahan lainnya. Penggunaan aspal dari bahan batuan harus mengalami proses ekstraksi yang kemudian dicampur dengan minyak pelunak.
Proses terjadinya aspal batu adalah terjadi pada daerah yang mengandung minyak bumi dan aspal. Akibat terjadinya gerakan gerakan pada lapisan kulit bumi menyebabkan terjadinya penurunan atau retak-retak pada permukaan bumi. Dengan adanya tekanan dari bawah lapisan kulit bumi menyebabkan keluarnya minyak bumi. Apabila tekanan yang terjadi besar, maka minyak bumi akan keluar dengan aspal yang dikandungnya, akan tetapi sebaliknya, apabila tekanan itu lemah maka minyak bumi akan merembes melalui retakan-retakan dan aspal itu tertinggal. Pada proses perjalanan minyak bumi tadi, akan melalui batuan-batuan yang sifatnya porous sehingga minyak bumi yang mengandung aspal akan meresap pada lapisan batuan porous tersebut dan terjadilah aspal batuan.
Indonesia memiliki aspal alam yaitu di Pulau Buton, yang terkenal dengan nama ASBUTON ( Aspal Pulau Buton ). Penggunaan asbuton sebagai salah satu material perkerasan jalan telah dimulai sejak tahun 1920. Walaupun masih besifat Konvensional, asbuton merupakan batu yang mengandung aspal, asbuton merupakan material yang ditemukan begitu saja di alam, maka kadar bitumen yang dikandungnya sangat bervariasi dari rendah sampai tinggi.
 Produk asbuton dapat di bagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
- Produk asbuton yang masih mengandung material filler, seperti asbuton kasar, asbuton halus, asbuton mikro, dan butonite mastic asphalt. (Kadar Bitumen <20%)
- Produk asbuton yang sudah dimurnikan menjadi aspal murni melalui proses ekstrasi atau proses kimiawi. Produk ini bisa langsung dipakai untuk mengaspal jalan. (Kadar Bitumen >20%).
b)      Aspal Danau / Lake Asphalt
Sedangkan di belahan dunia lain, aspal danau akan banyak ditemukan di pulau Trinidad dan Venezuela yabg aspalnya memiliki campuran mineral, bitumen serta bahan organic lain. Angka penetrasi dari jenis aspal danau  memiliki tingkat yang rendah dan titik lembek yang cukup tinggi. Oleh sebab itu penggunaan aspal danau akan dicampur dengan aspal keras agar mendapatkan tingkat penetrasi yang diinginkan.
c)      Aspal Cair
Aspal ini terdapat di Segitiga Bermuda yang mengandung aspal murni.
B.     ASPAL BUATAN / ASPAL MINYAK
Aspal buatan adalah asapal yang terbuat dari minyak bumi yang diproses sedemikian rupa metode tertentu yang relative rumit. Proses ini disebut destilasi. Destilasi sendiri merupakan proses penyulingan yang memisahkan minyak bumi dengan fraksi di dalamnya dengan menaikkan temperature minyak bumi tersebut.
            Secara garis besar aspal buatan terbagi menjadi 3, yaitu :
a)      Aspal Keras / Asphalt Cement
Aspal keras adalah aspal yang memiliki tingkat kekerasan yang tinggi. Penetrasi yang dimiliki aspal ini berkisar antara 60-80. Aspal keras umumnya digunakan menjadi bahan baku pembentuk jalan aspal. Aspal keras merupakan hasil residu dari proses destilasi sederhana dari fraksi ringan yang terkandung dalam minyak bumi dan fraksi didalamnya. Aspal ini juga sering digunakan sebagai bahan pembuatan Asphalt Cement. Residu ini dihasilkan dari destilasi hampa pada suhu 480ºC atau bervariasi tergantung dari sumber minyak mentah yang digunakan.
Asphalt Cement pada temperature ruang (25º-30ºC) berbentuk padat. Asphalt Cement terdiri dari beberapa jneis tergantung dari proses pembuatannya dan jenis minyak  bumi asalnya. Pengelompokan Asphalt Cement dapat dilakukan berdasarkan nilai penetrasi pada temperature 25ºC atau dari nilai viskositasnya.
Di Indonesia Asphalt Cement biasanya dibedakan berdasarkan nilai penetrasinya, yaitu:
1)      AC pen 40/50, yaitu AC dengan penetrasi 40-50
2)      AC pen 60/70, yaitu AC dengan penetrasi 60-70
3)      AC pen 85/100, yaitu AC dengan penetrasi 85-100
4)      AC pen 120/150, yaitu AC dengan penetrasi 120/150
5)      AC pen 200/300, yaitu AC dengan penetrasi 200-300
Asal dengan penetrasi rendah digunakan didaerah bercuaca panas atau lalu lintas dengan volume tinggi, sedangkan aspal semen dengan penetrasi tinggi dignakan untuk daerah bercuaca dingin atau lalu lintas dengan volume rendah. Di Indonesia pada umumnya dipergunakan aspal dengan penetrasi 60-70 dan 70-80.
b)      Aspal Cair/ Aspal Dingin (Cut Back Asphalt)
Aspal cair adalah  aspal yang memiliki wujud cair. Paling sering aspal ini dimanfaatkan untuk keperluan pengikat bahan bangunan. Aspal cair adalah campuran dari aspal semen dengan bahan pencair dari hasil penyulingan minyak bumi. Dengan demikian cut back asphalt berbentuk cair dalam temperature ruang. Aspal yang digunakan sebagai lapis resap pengikat (prime coat) yaitu aspal tipe MC-30, MC-70, atau MC-250. Sementara itu, tipe aspal yang dipakai untuk lapis pengikat (tack coat) antara lain RC-70 atau RC-250.
Produksi jenis aspal cair didapat dari melarutkan aspal keras dengan pelarut bebasis minyak yang didapat dari proses distilasi. Berdasarkan bahan cairnya dan kemudahan menguap bahan pelarutnya, aspal cair dbedakan atas :
v  RC ( Rapid Curing Cut Back ) merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bensin atau premium. RC merupakan cut back aspal yang paling cepat menguap. RC cut back asphalt digunakan sebagai Tack Coat (lapis perekat) dan Prime Coat (lapis resap pengikat.
v  MC (Medium Curing Cut Back) Merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bahan pencair yang lebih kental seperti minyak tanah. Pelarutnya tidak begitu cepat menguap.
v  SC (Slow Curing Cut Back) yang bahan pelarutnya lambat menguap dengan bahan pelarut solar. SC cut back diguanakan sebagai Prime Coat dan Dust Laying (Lapis Pengikat Debu)
v  Merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bahan yang lebih kental seperti solar. Aspal jenis ini merupakan cutback aspal yang paling lama menguap. Berdasarkan nilai Viskositas pada temperature 60ºC, cutback aspal dapat dibedakan atas:
RC 30-60
RC 70-140
RC 250-500
RC 800-1600
RC 3000-6000

MC 30-60
MC 70-140
MC 800-1600
MC 3000-6000


SC 30-60
SC 70-140
SC 250-500
SC 800-1600
SC 3000-6000
c)      Aspal Emulsi
Aspal jenis ini dihasilkan dari proses emulasi aspal keras dimana proses tersebut merupapakan proses memisahkan dan pendispersian partikel aspal keras didalam air yang sudah mengandung emulsifier. Emulsifier agent merupakan ion bermuatan lsitrik (Elektrolit), (+) Cation, (-) Annion. Emulsifier agent berfungsi sebagai stabilisator. Proses ini menghasilkan partikel yang sangat kecil namun memiliki kemampuan mengikat dengan cepat.
Emulsifier yang digunakan akan mempengaruhi jenis dan kecepatan pengikatan aspal emulsi yang nantinya akan dihasilkan. Hasil dari aspal emulsi tersebut terdapat tiga jenis, antara lain aspal emulsi non ionic (bersifat netral), aspal emulsi kationik (memiliki ion positif) dan aspal emulsi anionic (memiliki ion negative). Kelebihan-kelebihan dari aspal emulsi ialah gampang digunakan, memilii daya ikat yang baik, dan tahan terhadap cuaca ekstrim. Seluruh rangkaian proses pengolahan tersebut biasanya dilaksanakan dipabrik khusus pembuat aspal.
Berdasarkan muatan listrik yang dikandungnya, aspal emulsi dapat dibedakan atas :
Ø  Kationik, disebut juga aspal asam, merupakan aspal emulsi yang bermuatan arus listrik positif.
Ø  Anionic,disebut juga aspal emulasi alkali, merupakan aspal emulsi yang bermuatan negative.
Ø  Nanionik, merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi, berarti tidak mengantarkan listrik.
Yang umum digunakan sebagai bahan perkerasan jalan adalah aspal emulsi anionic dan kationik.
Berdasarkan pengerasannya aspal emulasi dibedakan atas :
Ø  Rapid Setting (RS), aspal yang mengandung sedikit pengemulsi sehingga pengikat cepat terjadi, digunakan untuk tack coat.
Ø  Medium Setting (MS), digunakan untuk seal coat
Ø  Slow Setting (SS), jenis aspal emulsi yang paling lambat menguap, digunakan sebagai prime coat.
C.     ASPAL MODIFIKASI
Jenis aspal yang satu ini merupakan aspal yang dibuat dari campuran aspal buatan khususnya aspal keras dengan bahan tambahan tertentu. Umumnya yang digunakan sebagai bahan campuran adalah berbagai jenis polymer seperti polymer plastomer dan polymer alstomer. Campuran bahan tersebut berfungsi untuk meningkatkan elastisitas serta sifat fisik pada aspal modifikasi.
Bahan campuran tambahan yang popular digunakan adalah hadala, sehingga bahan modifikasi ini sering disebut dengan aspal polymer.
Aspal polymer ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a)      Aspal Polymer Plastomer
Penambahan bahan polymer pada aspal berfungsi untuk meningkatkan sifat fisik campuran aspal dan sifat rheologinya. Jenis polymer Plastomer yang banyak digunakan adalah EVA (Ethylene Vinyle Acetate) Polyethilene dan Polypropilene.
b)      Aspal Polymer Elastomer
Aspal jenis ini sering digunakan sebagai campuran aspal keras karena dapat memperbaiki sifat rheologi aspal yang meliputi penetrasi, kekentalan, titik lembek dan elatisitas aspal keras. Aspal polymer elastomer jenis SBS (Styrene Buta diene Sterene), SBR (Styrene Buta diene Rubber), ISI (Styrene Isoprene Styrene) dan karet adalah yang umum digunakan sebagai campuran penambah aspal keras. Penambahan tersebut harus melewati uji laboratorium karena jika berlebihan  akan meimbulkan efek negative pada aspal.

2.     BAHAN SUSUNAN ASPAL
Aspal adalah bahan hidro karbon yang  bersifat melekat (adhesive) , berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap airdan viso elastic. Aspal juga sering disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal berasal dari alam atau pengolahan minyak bumi.
Aspal atau nitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen dan klor. Aspal sebagai bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat viskoelastis. Aspal tampak padat pada suhu ruang, padahal aspal adalah cairan yang sangat kental. Aspal merupakan bahan yang sangat kompleks dan secara kimia belum terkaraktrisasi dengan baik. Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon jenuh dan tak jenuh alifatik dan aromatic yang mempunyai atom karbon sampai 150 permolekul . atom-atom selain hydrogen dan karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen, oksigen dan beberapa atom lain. Secara kuantitatif, biasanya 80% massa aspal adalah karbon , 10% hydrogen, dan sisanya oksigen dan nitrogen serta sejumlah renik besi nikel dan vanadium. Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan atas aspalten (yang massa molekulnya kecil) dan malten ( yang massa molekulnya besar). Biasanya aspal mengandung 5%-25% aspalten. Sebagian besar senyawa yang terkansung dalam asapal adalah polar.


3.     PROSES TERJADINYA ASPAL
Ø  ASPAL ALAM
Aspal alam terbentuk secara perlahan-lahan dari fraksionasi alami minyak didekat minyak bumi. Aspal terdapat dialam biasanya dalam bentuk batuan sehingga biasa disebut batuan aspal. Aspal alam disebabkan adanya pengaruh tektonik terhadap minyak bumi yang diduga semula terkandung dalam batuan induk kemudian berimigrasi melalui dasardan mengimpregnasi batuan sekitarnya, yaitu batu pasir dan batu gamping. Material aspal membentuk suatu danau yang mengisi pori-pori, celah batu atau deposit yang mengandung campuran aspal alam dan bahan mineral dalam berbagai porsi.
Ø  ASPAL MINYAK
Sumber aspal ii berasal dari kilang minyak (refinery bitumen). Aspal yang dihasilkan dari industry kilang minyak mentah (crude oil) dikenal sebagai residual bitumen, straight bitumen atau steam refined bitumen. Istilah refinery bitumen merupakan nama yang tepat dan umum digunakan.
Aspal yang dihasilkan dari minyak mentah yang diperoleh melalui proses destilasi minyak bumi. Proses penyulinganini dilakukan dengan pemanasan hingga 350ºC dibawah tekanan atmosfer untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak seperti gas oline (bensin), kerosene (minyak tanah) dan gas oil.

4.     PENGGUNAAN ASPAL
Aspal memiliki beberapa kegunaan antara lain :
a)      Untuk mengikat batuan agar tidak lepas dari permukaan jalan akibat lalu lintas (waterproofing, protect terhadap erosi)
b)      Sebagai bahan pelapis dan perekat agregat.
c)      Lapisan resap pengikat (prime coat) adalah lapisan tipis aspal cair yang diletakkan diatas lapis pondasi sebelum lpais berikutnya.
d)     Lapisan pengikat (take coat) adalah lapis aspal cair yang diletakkan diatas jalan yang telah beraspal sebelum lapis berikutnya dihampar, berfungsi pengikat dianatara keduanya.
e)      Sebagai pengisi ruang yang kosong antara agregat kasar, agregat halus, dan filler.

5.     SEBARAN DAN PROSPEK ASPAL DI INDONESIA
Sebaran Aspal Alam hanya terdapat di 2 tempat, yaitu :
a)      Danau Pict, Trinidad republic Tobago.
b)      Asbuton, Pulau Buton Sultra Indonesia.


6.     POTENSI/CADANGAN/DEPOSIT
Endapan asbuton tersebut mulai dari teluk dapolawa sampai teluk lawele. Kadar aspal dalam batuan bervariasi anatara 10%-45% bergantung kepada jenis dan pororsitas batuan, meskipun dalam lapangan yang sama. Adreal aspal biasanya ditemukan pada puncak pegunungan atau di lereng antiklin.
Dipulau buton terdapat 19 lapanagan aspal besar dan kecil, 4 dianataranya dikategorikan ekonomis, yaitu : lapangan waisiu dengan cadangan sekitar 200.000 Ton dan kadar bitumen rata-rata adalah 30%, kabungka (4,5 juta Ton, 30%-45%). Wariti (600.000 ton, 30%), dan lapangan lawele (20.000 ton, 20%-35%). Dengan jumlah semua potensi sekitar 650 juta ton.
Berikut keunggulan aspal buton :
Ø  Sekitar 650 juta ton
Ø  Kadar aspal 10%-40%.
Ø  Terletak hannya 1.5 meter dibawah permukaan tanah, bandingkan dengan kadar aspal alam yang diolah di Amerika Serikat yang hanya 12%-15% dan Tobago (Danau Trinidad) dengan kadar aspal hanya 6-10% dan terletak ratusan meter di bawah permukaan tanah.

Jumat, 19 Juni 2020

ASPAL TJR III


Uji Coba Kupas Aspal Formula E di Monas, Bisa Kembali Seperti Semula

     Aspal atau bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor. Aspal sebagai bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat viskoelastis. Aspal tampak padat pada suhu ruang padahal adalah cairan yang sangaaat kental.

1. Jenis Aspal
     
Terdapat tiga jenis aspal yang biasa digunakan sebagai bahan konstruksi perkerasan jalan, yaitu:
  1. Aspal alam. Aspal alam ditemukan di pulau Buton (Sulawesi Tenggara Indonesia), Perancis, Swiss, dan Amerika Serikat. 
  2. Aspal buatan. Aspal buatan merupakan residu penyulingan minyak bumi, dengan karakteristiknya sangat bergantung dari jenis minyak bumi yang disuling (dikilang), apakah minyak bumi berbasis aspal (asphaltic base), parafin (parafine base) atau berbasis campuran (mixes base).
  3. Aspal polimer. Aspal polimer adalah suatu material yang dihasilkan dari modifikasi antara polimer alam atau polimer sintetis dengan aspal. Modifikasi aspal polimer (atau biasa disingkat dengan PMA) telah dikembangkan selama beberapa dekade terakhir.
2. Bahan Susun Aspal

     Aspal banyak digunakan dalam konstruksi perkerasan jalan karena memiliki sifat sebagai pengikat dan pengisi rongga udara antara agregat. Adapun sifat-sifat aspal adalah sebagai berikut (Sukirman, 1993):

a. Mempunyai Daya Tahan (durability) 

     Daya tahan aspal adalah kemampuan aspal mempertahankan sifat asalnya akibat pengaruh cuaca selama masa pelayanan jalan. Sifat ini merupakan sifat dari campuran aspal, jadi tergantung dari sifat agregat, campuran dengan aspal, faktor pelaksanaan dan sebagainya.

b. Kohesi dan Adhesi

Kohesi merupakan kemampuan aspal untuk mengikat unsur-unsur penyusun dari dirinya sendiri sehingga terbentuknya aspal dengan daktilitas yang tinggi. Sedangkan adhesi menyatakan kemampuan aspal untuk berikatan dengan agregat dan tetap mempertahankan agregat pada tempatnya setelah berikatan.

c. Kepekaan terhadap temperatur 

     Kepekaan aspal terhadap temperatur adalah sensitivitas perubahan sifat viskoelastis aspal akibat perubahan temperatur, sifat ini dinyatakan sebagai indeks penetrasi aspal (IP).

d. Kekerasan aspal 

     Aspal pada proses pencampuran dipanaskan dan dicampur dengan agregat sehingga agregat dilapisi aspal atau aspal panas disiramkan ke permukaan agregat yang telah disiapkan pada proses peleburan. Pada waktu proses pelaksanaan, terjadi oksidasi yang menyebabkan aspal menjadi getas (viskositas bertambah tinggi).

e. Viskoelastisitas Aspal 

    Viskoelastisitas aspal adalah suatu material yang bersifat viskoelastis yang sifatnya akan berubah tergantung pada temperatur atau waktu pembebanan. Sifat viskoelastis aspal adalah untuk menentukan pada temperatur beberapa pencampuran aspal dengan agregat harus dilakukan agar mendapatkan campuran yang homogen dimana semua permukaan agregat dapat terselimuti oleh aspal secara merata dan aspal mampu masuk ke dalam pori-pori agregat untuk membentuk ikatan kohesi yang kuat dan untuk mengetahui pada temperatur berapa pemadatan dapat dilakukan dan kapan harus dihentikan.

3. Proses Terjadinya Aspal

     Sebagian besar dari aspal yang digunakan secara komersial diperoleh dari minyak bumi. Meskipun demikian, sejumlah besar aspal terjadi dalam bentuk terkonsentrasi di alam. Alami deposito aspal / bitumen terbentuk dari sisa-sisa kuno, mikroskopis ganggang ( diatom ) dan hal-hal sekali-hidup lainnya. Sisa-sisa tersebut disimpan di lumpur di dasar laut atau danau di mana organisme hidup. Di bawah panas (di atas 50 ° C) dan tekanan dari pemakaman jauh di dalam bumi, sisa-sisa diubah menjadi bahan seperti aspal / bitumen, kerogen , atau minyak bumi.

     Deposito alami aspal / bitumen termasuk danau seperti Danau pitch di Trinidad dan Tobago dan Danau Bermudez di Venezuela. Alami merembes dari aspal / bitumen terjadi di La Brea Tar Pits dan di Laut Mati .
Aspal / bitumen juga terjadi di batupasir yang tidak terkonsolidasi dikenal sebagai “pasir minyak” di Alberta, Kanada, dan sejenisnya “tar pasir” di Utah, AS. Provinsi Kanada Alberta memiliki sebagian dari cadangan dunia aspal alam, dalam tiga deposito besar yang meliputi 142.000 kilometer persegi (55.000 sq mi), area yang lebih besar dari Inggris atau negara bagian New York . Ini pasir bituminous berisi 166 miliar barel (26,4 × 10 9 m 3) cadangan minyak komersial didirikan, memberikan Kanada terbesar ketiga cadangan minyak di dunia. dan menghasilkan lebih dari 2,3 juta barel per hari (370 × 10 3 m 3 / d) dari minyak mentah berat dan minyak mentah sintetis . Meskipun secara historis itu digunakan tanpa pemurnian untuk membuka jalan, hampir semua aspal sekarang digunakan sebagai bahan baku untuk kilang minyak di Kanada dan Amerika Serikat.